Saya sudah semester 5 !.
Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama
karena saya adalah mahasiswa baik di kelas. Namun, setelah direnungkan, saya
tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan
teman-teman disekitar saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya adalah memang yang terbaik dalam melakukan apa
yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya mngertii, dan seharusnya bangga bahwa saya telah mengikuti periode
indoktrinasi ini hingga semester 4. Saya akan pergi musim liburan ini
dan menuju tahap perungan diri. Tetapi saya adalah seorang manusia,
seorang pemikir, pencari pengalaman hidup bukan pekerja. Pekerja adalah orang
yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung
dirinya. Sekarang, saya hampir telah
berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang
disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas
dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin
membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat. Saat anak-anak
lain masuk ke kelas lupa mengerjakan tugas mereka karena asyik membaca
hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan tugas saya. Saat
yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS,
walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya
ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah
bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya?
Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau
saya akan tersesat dalam kehidupan saya?